ALKOLOID
A. Asal-Usul
Alkaloid
Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme,
mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar biasanya dengan
mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan
lidah dapat disebabkan oleh alkaloid.
Istilah "alkaloid" (berarti
"mirip alkali", karena dianggap bersifat basa)
pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle
(Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari
ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga
sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur
sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya.
B. Struktur
Molekul
Alkaloida tidak mempunyai tatanan sistematik, oleh karena
itu, suatu alkaloida dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin
dan strikhnin. Hampir semua nama trivial ini berakhiran –in yang mencirikan
alkaloida.
Klasifikasi
alkaloida dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara, yaitu :
1.
Berdasarkan
jenis cincin heterosiklik nitrogen yang merupakan bagian dari struktur molekul.
Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis
sperti alkaloida pirolidin, alkaloida piperidin, alkaloida isokuinolin,
alkaloida kuinolin, dan alkaloida indol.
2. Berdasarkan jenis tumbuhan
darimana alkaloida ditemukan. Cara ini digunakan untuk menyatakan jenis
alkaloida yang pertama-tama ditemukan pada suatu jenis tumbuhan. Berdasarkan
cara ini, alkaloida dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu aklakoida
tembakau, alkaloida amaryllidaceae, alkaloida erythrine dan sebagainya. Cara
ini mempunyai kelemahan, yaitu : beberapa alkaloida yang berasal dari tumbuhan
tertentu dapat mempunyai struktur yang berbeda-beda.
3. Berdasarkan asal-usul biogenetik.
Cara ini sangat berguna untuk menjelaskan hubungan antara berbagai alkaloida
yang diklasifikasikan berdasarkan berbagai jenis cincin heterosiklik. Dari
biosintesa alkaloida, menunjukkan bahwa alkaloida berasal hanya dari beberapa
asam amino tertentu saja. Berdasarkan hal tersebut, maka alkaloida dapat
dibedakan atas tiga jenis utama, yaitu :
a. Alkaloida alisiklik yang berasal
dari asam-asam amino ornitin dan lisin.
b. Alkaloida aromatik jenis fenilalanin
yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan 3,4 dihidrofenilalanin.
c. Alkaloida aromatik jenis indol yang
berasal dari triptofan.
4.
Sistem
klasifikasi berdasarkan Hegnauer yang paling banyak diterima, dimana alkaloida dikelompokkan
atas :
a. Alkaloida sesungguhnya
Alkaloida ini merupakan racun,
senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hamper tanpa
terkecuali bersifat basa, umumnya mengandung nitrogen dalam cincin
heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman
sebagai garam asam organik. Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut
adalah kolkhisin dan asam aristolokhat yang bersifat bukan basa dan tidak
memiliki cincin heterosiklik dan alkaloida quartener yang bersifat agak asam
daripada bersifat basa.
b. Protoalkaloida
Protoalkaloida merupakan amin yang
relative sederhana dimana nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cincin
heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesa dari asam amino
yang bersifat basa. Pengertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok
ini.
c. Pseudoalkaloida
Pseudoalkaloida tidak diturunkan
dari prekusor asam amino ini biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida
yang penting dalam kelompok ini yaitu steroidal dan purin. Berikut ini adalah
pengelompokan alkaloid berdasarkan struktur cincin atau struktur intinya yang
khas, dimana pengelompokkan dengan cara ini juga secara luas digunakan :
1) Inti Piridin-Piperidin, misalnya
lobelin, nikotin, konini dan trigonelin
2) Inti Tropan, misalnya hiosiamin,
atropine, kokain.
3) Inti Kuinolin, misalnya kinin,
kinidin
4) Inti Isokuinolin, misalnya
papaverin, narsein
5) Inti Indol, misalnya ergometrin dan
viblastin.
6) Inti Imidazol, misalnya pilokarpin.
7) Inti Steroid, misalnya solanidin dan
konesin.
8) Inti Purin, misalnya kofein.
9) Amin Alkaloid, misalnya efedrin dan
kolsikin
C. Skrining
Fitokimia
Petunjuk paling mudah adanya
alkaloid adalah rasa pahit pada simplisia. Simplisia dicicipi di lidah, tidak
perlu ditelan, bila terasa pahit, maka kemungkinan besar mengandung alkaloid.
Lalu pemeriksaan dilanjutkan dengan reaksi Kimia. Caranya:
Timbang 2 gram simplisia, dimasukkan
ke dalam mortir, ditambah 5 ml ammonia, gerus, lalu tambahkan 20 ml kloroform,
gerus sebentar, saring, masukkan ke dalam tabung reaksi. Bagi filtrate menjadi
2 bagian, bagian pertama ditetesi padakertas saring, lalu di tempat yang sama
ditetesi pereaksi Dragendorff, akan tebentuk warna jingga. Bagian yang kedua
ditambah 10 ml HCl (1:10) dalam air, kocok, lalu ambil bagian atasnya ke tabung
reaksi lain. Lalu bagian yang diambil tersebut dibagi menjadi 2 bagian, bagian
pertama ditambah beberapa tetes pereaksi Dragendorff tebentuk endapan merah.
Bagian kedua ditambah beberapa tetes pereaksi Mayer terbentuk endapan Putih.
Endapan putih yang terbentuk ditambah 1 ml etanol 96 %, bila larut makan
endapan tersebut berasal dari alkaloid, sementara bila tidak larut maka endapan
yang terbentuk berasal dari pengotor dan bukan dari alkaloid.
Di dalam tumbuhan, alkaloid
berikatan dengan asam organic, misal morfin berikatan dengan asam asetat
membentuk asam asetat. Karena itu saat melakukan identifikasi, ammonia
digunakan untuk membebaskan alkaloid dari asam organiknya dan menjadikannya
alkaloid basa yang mudah larut dalam kloroform. Penggerusan dilakukan untuk
memecah dinding sel simplisia supaya metabolit sekunder, dalam hal ini aalah
alkaloid, dapat keluar. Kloroform digunakan untuk menarik alkaloid basa.
Pereaksi Dragendorff dan pereaksi Mayer adalah pereaksi yang umum digunakan
untuk identifikasi alkaloid. Asam HCl (1:10) dalam air digunakan untuk
menggaramkan kembali alkaloid basa yang ditarik kloroform menjadi alkaloid HCl.
Karena untuk menarik alkaloid basa digunakan kloroform yang bersifat semipolar,
dapat disimpulkan bahwa senyawa alkaloid bersifat semipolar.
D. Isolasi
Dan Pemurnian Serta Penentuan Struktur
Satu-satunya sifat kimia alkaloid
yang paling penting adalah kebasaannya. Metode pemurnian dan pencirian ialah
umumnya mengandalkan sifat ini, dan pendekatan khusus harus dikembangkan untuk
beberapa alkaloid misalnya rutaekarpina, kolkhisina, risinina) yang tidak bersifat
basa.
Umumnya isolasi bahan bakal sediaan
galenik yang mengandung alkaloid dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Dengan menarik menggunakan
pelarut-pelarut organik berdasarkan azas Keller. Yaitu alkaloida disekat pada
pH tertentu dengan pelarut organik.
Prinsip pengerjaan dengan azas
Keller yaitu alkaloida yang terdapat dalam suatu bakal sebagai bentuk garam,
dibebaskan dari ikatan garam tersebut menjadi alkaloida yang bebas. Untuk itu
ditambahkan basa lain yang lebih kuat daripada basa alkaloida tadi. Alkaloida
yang bebas tadi diekstraksi dengan menggunakan pelarut –pelarut organic
misalnya Kloroform. Tidak dilakukan ekstraksi dengan air karena dengan air maka
yang masuk kedalam air yakni garamgaram alkaoida dan zat-zat pengotor yang
larut dalam air, misalnya glikosida-glikosida, zat warna, zat penyamak dan
sebagainya. Yang masuk kedalam kloroform disamping alkaloida juga lemaklemak,
harsa dan minyak atsiri. Maka setelai alkaloida diekstraksi dengan kloroform
maka harus dimurnikan lagi dengan pereaksi tertentu. Diekstraksi lagi dengan
kloroform. Diuapkan, lalu didapatkan sisa alkaloid baik dalam bentuk hablur
maupun amorf. Ini tidak berate bahwa alkaloida yang diperoleh dalam bentuk
murni, alkaloida yang telah diekstaksi ditentukan legi lebih lanjut. Penentuan
untuk tiap alkaloida berbeda untuk tiap jenisnya. Hal-hal yang harus
diperhatikan pada ekstraksi dengan azas Keller, adalah :
·
Basa
yang ditambahkan harus lebih kuat daripada alkaloida yang akan dibebaskan dari ikatan
garamnya, berdasarkan reaksi pendesakan.
·
Basa
yang dipakai tidak boleh terlalu kuat karena alkaloida pada umumnya kurang stabil.
Pada pH tinggi ada kemungkinan akan terurai, terutama dalam keadaan bebas,
terlebih bila alkaloida tersebut dalam bentuk ester, misalnya : Alkaloid
Secale, Hyoscyamin dan Atropin.
·
Setelah
bebas, alkaloida ditarik dengan pelarut organik tertentu, tergantung kelarutannya
dalam pelarut organik tersebut.
Alkaloid biasanya diperoleh dengan
cara mengekstraksi bahan tumbuhan memakai air yang diasamkan yang melarutkan
alkaloid sebagai garam, atau bahan tumbuhan dapat dibasakan dengan natrium
karbonat dan sebagainya dan basa bebas diekstaksi dengan
pelarut organik seperti kloroform,
eter dan sebagainya. Radas untuk ekstraksi sinabung dan pemekatan khusunya
digunakan untuk alkaloid yang tidak tahan panas. Beberapa alkaloid menguap
seperti nikotina dapat dimurnikan dengan cara penyulingan uap dari larutan yang
diabasakan. Larutan dalam air yang bersifat asam dan
mengandung alkaloid dapat dibasakan
dan alkaloid diekstaksi dengan pelarut organik, sehingga senyawa netral dan
asam yang mudah larut dalam air tertinggal dalam air. Cara lain yang berguna
untuk memperoleh alkaloid dari larutan asam adalah dengan penjerapan
menggunakan pereaksi Lloyd. Kemudian alkaloid dielusi dengan dammar XAD- 2 lalu
diendapkan dengan pereaksi Mayer atau Garam Reinecke dan kemudian endapan dapat
dipisahkan dengan cara kromatografi pertukaran ion. Masalah yang timbul pada
beberapa kasus adalah bahwa alkaloid berada dalam bentuk terikat yang tidak
dapat dibebaskan pada kondisi ekstraksi biasa. Senyawa pengkompleksnya
barangkali polisakarida atau glikoprotein yang dapat melepaskan alkaloid jika
diperlakukan dengan asam.
2. Pemurnian alkaloida dapat dilakukan
dengan cara modern yaitu dengan pertukaran ion.
3. Menyekat melalui kolom kromatografi
dengan kromatografi partisi.
Cara kedua dan ketiga merupakan cara
yang paling umum dan cocok untuk memisahkan campuran alkaloid. Tata kerja untuk
mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid yang terdapat dalam bahan tumbuhan
yang jumlahnya dalam skala milligram menggunakan gabungan kromatografi kolom
memakai alumina dan kromatografi kertas.
E. Bioaktivitas
Setiap dari
masing masing golongan alkaloid memiliki bioaktifitas sendiri-sendiri. Untuk
mengenal lebih jauh maka di bawah ini akan dipaparkan secara singkat dan jelas
bioaktifitas dari masing-masing alkaloid secara lebih jauh.
1. Bioaktifitas Golongan Piridin
Secara luas
piridin digunakan sebagai pelarut. Piridin bersifat polar tetapi aprotik.
Piridine larut dalam sebagian besar larutan termasuk heksan dan air. Piridin
yang terdestilasi yang disebut dengan piridin-d5 adalah pelarut yang
sesuai untuk 1H NMR spektroskopi.
·
Piperin
Piperin ditemukan pada CYP3A4 dan
P-glycoprotein, enzyme yang penting pada metabolisme dan transport dari
xenobiotik dan metabolit. Pada penelitian pada hewan piperin juga inhibitor
enzym yang lain pada proses metabolisme tubuh. Dengan menjadi inhibitor maka
piperin meningkatkan bioavailabilitas dari beberapa komponen misalnya pada
kurkumin. Piperin juga ditemukan dapat menstimulasi proses pigmentasi pada
kulit. Berdasarkan pada efeknya pada metabolisme obat, piperin harus diberikan
secara hati-hati pada proses medikasi.
·
Trigonelin
Trigonelin biasanya terdapat
pada kopi yang dapat mencegah mutasi bakteri Streptococcos melekat pada gigi.
·
Pilokarpin
Pilokarpin digunakan dalam terapi
open-angle glaucoma dan angle-closure glaukoma akut yang lebih dari 100 tahun.
Efek kerja dari pilokarpin terjadi pada Muskarinik Reseptor M3 yang ditemukan
pada otot iris mata yang bisa menyebabkan mata berkontraksi dan terjadilah
miosis. Hal ini menyebabkan terbukanya lbang mata dan meningkatkan ketegangan
pada otot mata. Proses inilah yang menyebabkan aqueous humor keluar dari mata
untuk menurunkan tegangan intraokular. Pilokarpin juga digunakan untuk
mengobati mulut kering ( xerostomia) misalnya akibat dari terapi radiasi pada
kanker kepala dan leher. Pilocarpin dapat menstimulasi sekresi air liur.
Pilokarpin juga dapat digunakan untuk menstimulasi kelenjar keringat pada
uji keringat saat mengukur konsentrasi dari kloride dan natrium yang
terekskresi melalui keringat yang digunakan untuk mendiagnosa cystic fibrosis
(CF).
·
Sistin
Sistin adalah reseptor agonis
nikotinik asetilkolin dan sebagai pengobatan terhadap preparasi farmasetik
dalam upaya pengobatan untuk pecandu nikotin. Derifatif dari sistin yaitu
vareniklin telah dikembangkan sebagai obat penghenti merokok. Tanaman yang
mengandung sistin memiliki efek positif diantaranya adalah rendah toksik tetapi
juga memilki efek samping yaitu mual, muntah, sakit hati, sakit kepala dan pada
dosis tingg menyebabkan kematian akibat dari kegagalan pernapasan.
·
Nikotin
Nikotin bisa digunakan sebagai salah
satu terapi pengobatan bagi pecandu rokok. Untuk mengkontrol penggunaan nikorin
sebagai pengobatan pada pasien biasanya nikotin diberikan dalam bentuk permen,
patch, tablet hisap atau semprot hidung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
nikotin juga bisa digunakan sebagai salah satu pengobatan terhadap epilepsi.
Nikotin dan metabolitnya sedang diteliti kemampuannya sebagai terapi untuk
penyakit kejiwaan misalnya ADHD, Schizophrenia dan penyakit Parkinson.
Penderita Schizophrenia bisa merokok dua sampai tiga kali lebih sering dari
perokok tanpa gangguan mental, hal ini merupakan bentuk swa-medikasi untuk
meningkatkan perhatian dan meningkatkan daya ingatnya.
2.
Bioaktifitas Golongan Tropan
·
Atropin
Secara umum atropin memanjangkan dan
memendekan seluruh aktifitas dari otot dan kelenjar yang diregulasi oleh sistem
saraf parasimpatik. Ini terjadi karena atropin merupakan antagonis kompetitif
dari reseptor muskarinik asetilkolin. Atropin secara topikal digunakan sebagai
sikloplegik dan sebagai midriatik untuk dilatasi pada pupil. Atropin
menyebabkan midriasis dengan jalan membloking kontraksi dari otot spingter
pupil. Atropin kontraindikasi dengan pasien glaukoma sempit.Atropin bisa
digunakan pada pasien yang memilki trauma yang besar. Injeksi Atropin biasa
digunakan pada terapi bradikardi, asistol dan PEA pada penderita penyakit
jantung. Hal ini terjadi karena adanya reaksi dari syaraf vagus dari sistem
parasimpatik pada jantung yang akhirnya menurunkan tekanan. Atropin merangsang
keluarnya air liur, keringat dan mukosa kelenjar. Hal ini sangat berguna pada
terapi hipertiroid dan dapat mencegah kematian pada pasien. Atropin juga
digunakan sebagai antidotum pada SLUDGE ( Salivation, Lacrimation, Urination,
Diaphoresis, Gastrointestinal motility, Emesis) penyakit yang disebakan karena
keracunan organophospat. Atropin juga bisa dimanfaatkan untuk mengurangi efek
dari asetilkolin.
·
Kokain
Kokain merupakan stimulan dari
sistem syaraf pusat dan penurun nafsu makan. Secara spesifik merupakan dopamin
reuptake inhibitor, noradrenalin reuptake inhibitor dan sekaligus serotonin
reuptake inhibitor. Karena proses kerjanya yang mempengaruhi mesolimbic reward
pathway maka kokain bersifat adktif. Meskipun demikian kokain juga sering
digunakan sebgai anestesi secara topikal, meskipun pada anak-anak, biasanya
terutama pada operasi mata, hidung dan tenggorokan.
·
Scopolamin
Scopolamin memiliki tiga kegunaan primer:
terapi pada mual dan penyakit motion, terapi pada kejang di saluran pencernaan
dan untuk penyakit pada mata. Kegunaannya secara umum adalah untuk depresan dan
mengobati penyakit mata. Scopolamin jarang digunakan sebagai praanestesi dan
tidak pernah digunakan dalam terapi penyakit Parkinson. Scopolamin juga
digunakan sebagai bahan tambahan pada analgesik narkotik seperti pada obat
tidur yang mengandung morfin dan scopolamin.
3.
Bioaktifitas Golongan
Quinolin
·
Quinin
Quinin sangat efektif untuk pengobatan
pada malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum.
·
Quinidine
Quinidin memilki efek utama sebagai
antiaritmik, dengan cara memblokade masuknya natrium pada sel. Hal ini
menyatakan jika detak jantung meningkat maka blokade dari ion natrium menurun.
Quinidin juga memilki efek pada chanel ion pada aktifitas cardiac, dengan cara
memperpanjang interval QT pada permukaan ECG.
·
Strychnin
Strichnin memiliki efek
sebagai bloker atau antagonis pada inhibitor atau strichnin-sensitif yakni reseptor
glysin. Meskipun Strichnin terkenal sangat beracun tetapi pada dosis yang kecil
bisa digunakan sebagai stimulan, laxantif dan sebagai terapi pada beberapa
sakit perut. Strichnin juga bisa berfungsi sebagai pestisida pada hewan
pengerat.
·
Brucin
Pada kegiatan medis brucin digunakan
sebagai pengatur tekanan darah dan untuk mengatasi beberapa penyakit jantung.
·
Veratrin
Veratrin digunakan sebgai salep pada
terapi neuralgia dan sakit rematik.
4.
Bioaktifitas Golongan
Isoquinolin
Isoquinolin bisa digunakan untuk
berbagai macam fungsi diantaranya adalah anastetik, antihipertensi seperti
quinapril, quinaprilat dan debrisoquine, sebagai antifungal, disinfektan,
vasodilator seperti papaverin.
·
Codein
Codein bisa dimanfaatkan sebagai
obat batuk dengan dosis rendah, juga bisa untuk diarrhea da untuk beberapa
sakit kepala. Terkadang dipasaran codein dipasarkan dengan campuran kombinasi
menggunakan acetaminophen seperti codamol, paracod, panadeine ataupun juga
dikombinasikan dengan analgesik misalnya aspirin seperti co-codaprin ataupun
dengan NSAID ibuprofen seperti Nuferon plus dan lain sebagainya. Kombinasi
tersebut menghasilkan efek synergis obat yang baik.
·
Morphine
Morfin merupakan narkotika yang
dapat berfungsi sebagai agonis reseptor opioid fenantren. Pada klinis, morfine
memiliki efek farmakologi pada sistem syaraf pusat. Morfin merupakan narkotik
rapi-action dan sangat kuat sebagai reseptor µ-opioid sehingga menyebabkan efek
sedasi, euphoria, penurunan fisik dan depresi pernapasan. Morfin juga merupakan
?-opioid dan ?- opioid agonis reseptor, ?-opioid bekerja pada spinal analgesia
yang menyebabkan efek miosis dan psycomimetic.
Seperti pada obat loperamide, morphine bekerja pada
pleksus myenterikus pada saluran pencernaan, mengurangi motilitas usus yang
dapat menyebabkan konstipasi.
·
Papaverin
Papaverin digunakan untuk pengobatan
pada paisen yang mengalami kejang pada saluran pencernaan, saluran kemih dan
ureter dan juga digunakan sebgai vasodilator otak dan pada serangan jantung
dalam perdarahan dan operasi coronary artery bypass. Papaverin juga bisa
digunakan sebagai relaksan otot polos pada operasi kecil dimana dilakukan
pada pembuluh darah kapiler.
·
Emetin
Emetin berfungsi sebagai anti
amoebic. Meskipun penggunaan emetin menyebabkan mual tapi efek anti amoebicnya
lebih efektif dari pada akar ipekak. Emetin tidak dapat diabsorbsi dalam tubuh
secara per oral.
Meskipun memiliki sifat poten menjadi anti-protozoa,
emetin juga bersifat mudah menggangu kontraksi otot bahkan menyebabkan kegagalan
jantung pada beberapa kasus medis.
5.
Bioaktifitas Golongan
Phenetylamin
Pada otak manusia 2-phenethylamine
dipercaya memiliki fungsi sebagai neuromodulator atau neurotransmiter.
Diperkirakan phenethylamine dari makanan memiliki efek psychoactive pada jumlah
tertentu.
·
Mescalin
Mescalin sangat efektif bila
digunakan sebagai obat diare. Tapi pada penggunaan dengan dosis yang tidak
tepat maka mescalin bisa menyebabkan halusinasi.
·
Ephedrin
Secara luas ephedrin digunakan
sebgai topikal decongestan dan sebagai bronkodilator pada terapi asma.
·
Dopamine
Levedopa merupakan precursor dopamin
yang digunakan pada terapi penyakit Parkinson dan dopa-responsive yaitu
distonia. Dopamin juga bisa berfungsi sebagai oksidator sehingga mencegah cepat
busuk atau rusaknya sayran dan buah.
·
Amphetamin
Amphetamin bisa digunakan dalam
proses terapi pada ADD, ADHD, narcolepsy, treatment-resistant depression.
Tetapi juga memiliki beberapa kontraindikasi yaitu pada CNS stimulant, Glaucoma,
MAOI. Amphetamin telah terbukti dapat masuk ke dalam saluran ASI ibu. Karena
hal ini selam ibu menyusui dilarang mengkonsumsi amphetamin.
6.
Bioaktifitas Golongan Indol
·
Tryptamin
Triptamine memiliki fungsi sebagai
pestisida pada tanaman.
·
Ergolin
Ergolin merupakan salah satu
drug of choice yang bisa digunakan dalam pengobatan penyakit parkinson.
7.
Bioaktifitas Golongan Purin
Selain sebagai bagian drai DNA dan
RNA secar biokimia purin juga merupakan komponen pembentuk biomolekul penting
seperti ATP,ADP, siklik AMP, NADH dan koenzyme A. Purin tidak tersedia dari
alam tetapi dapat diproduksi oleh sistesis organic.
·
Xanthin
Derivatif dari xantin biasanya
berfungsi sebagai stimulant dan sebagai bronchodilator pada terapi asma. Derivatif
xantin yang termetilasi meliputi kafein, paraxantin, theophyllin dan theobromin
memiliki efek sebagai inhibitor phosphodiesterase dan antagonis adenosine.
Xantin juga ditemukan secara luas sebagai bagian dari asam nukleat.
·
Caffein
Pada manusia kafein merupakan
stimulant dari system syaraf pusat. Sedangkan pada hewan kafein merupakan
pestisida alam yang dapat memparalisis dan membunuh serangga tertentu dalam
maksud mempertahankan diri. Kafein merupakan stimulant sistem saraf psat
sekaligus sebagai stimulant metabolit dan digunakan secara berkala untuk
mengurangi keletihan fisik dan memperbaiki kesiagapan ketika kelelahan dan rasa
mengantuk keluar.
·
Theobromin
Theobromin digunakan dalam
pengobatan pada udema, serangan angine syphilitic dan degenerative angina.
Theobromin bisa digunakan sebagai terapi pada arteriosclerosis, penyakit pada
pembuluh darah, angina pectoris dan hipertension. Theobromine digunakan sebagai
vasodilator dan heart stimulant.
·
Theophyllin
Theophyllin biasa digunakan sebagai
terapi penyakit obstructive kronik pada pernapasan, kronik obstructive penyakit
paru-paru, asma bronchial, infant apnea. Secara keseluruhan theophyllin
memiliki efek sebgai berikut, merelaksai otot bronchial, meningkatkan kontraksi
dan efisiensy dari jantung, meningkatkan tekanan darah, merupakan efek
anti-inflamasi, dan meningkatkan peredaran darah ke ginjal.
·
Bioaktifitas Golongan
Pyrrolidine
Kerja dari sekelompok alkaloid ini
menghalangi aktivitas saraf parasimpatis (pada bagian kecil dari spinal cord
dan batang otak terjadi stimulasi sekresi pencernaan, melawan efek fisiologi
system saraf simpatis, pupil konstriksi, detak jantung menjadi lambat, dan
dilatasi pembuluh darah). Sepintas lalu, alkaloid pyrrolidine juga termasuk ‘truth
medication’ scopolamine (juga diketahui sebagai hyoscine) dan kokain. Kopi
terkenal akan kandungan kafeinnya yang tinggi. Kafein sendiri merupakan senyawa hasil metabolisme sekunder
golongan alkaloid
dari tanaman kopi dan memiliki rasa yang pahit. Berbagai efek kesehatan dari
kopi pada umumnya terkait dengan aktivitas kafein di dalam tubuh.[
Peranan utama kafein
ini di dalam tubuh adalah meningkatan kerja psikomotor sehingga tubuh
tetap terjaga dan memberikan efek fisiologis
berupa peningkatan energi.
Efeknya ini biasanya baru akan terlihat beberapa jam kemudian setelah
mengonsumsi kopi. Kafein tidak hanya dapat ditemukan pada tanaman kopi, tetapi
juga terdapat pada daun teh
dan biji cokelat.
Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada
akar, biji, ranting, dan kulit kayu. Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme,
mulai dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar
biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa
pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid. Istilah
"alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap
bersifat basa) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner
(1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut berbagai senyawa
yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah
dikenal, misalnya, morfina, striknina, serta solanina). Hingga sekarang dikenal
sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam,
sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya. Cokelat adalah
makanan yang diolah dari biji kakao. Cokelat mengandung alkaloid-alkaloid
seperti teobromin, fenetilamina, dan anandamida yang memiliki efek fisiologis
untuk tubuh. Kandungan-kandungan ini banyak dihubungkan dengan tingkat
serotonin dalam otak. Menurut ilmuwan, cokelat jika dimakan dalam jumlah normal
secara teratur dapat menurunkan tekanan darah. Tembakau mengandung senyawa
alkaloid, diantaranya adalah nikotin. Nikotin termasuk dalam golongan alkaloiod
yang terdapat dalam famili Solanaceae. Nikotin dalam jumlah banyak terdapat
dalam tanaman tembakau, sedang dalam jumlah kecil terdapat pada tomat, kentang
dan terung. Nikotin dan kokain dapat pula ditemukan pada daun tanaman kota.
Kadar nikotin berkisar antara 0,6-3,0 % dari berat kering tembakau, dimana
proses biosintesisnya terjadi di akar dan terakumulasi pada daun tembakau.
Nikotin terjadi dari biosintesis unsur N pada akar dan terakumulasi pada daun.
Fungsi nikotin adalah sebagai bahan kimia antiherbivora dan adanya kandungan
neurotoxin yang sangat sensitif bagi serangga, sehingga nikotin digunakan
sebagai insektisida pada masa lalu. Kecubung adalah tumbuhan penghasil bahan
obat-obatan yang telah dikenal sejak ribuan tahun,di antaranya Datura
Stramonium, Datura tatura, dan Brugmansia suaviolens, namun daya khasiat
masing-masing jenis kecubung, berbeda-beda. Penyalahgunaan kecubung memang
sering terjadi, sehingga bukan obat yang didapat malah racun (menyebabkan
pusing) yang sangat berbahaya. Hampir seluruh bagian tanaman kecubung dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini disebabkan seluruh bagiannya mengandung
nikotin.
Batas aman konsumsi kafein yang
masuk ke dalam tubuh perharinya adalah 100-150 mg. Dengan jumlah ini, tubuh
sudah mengalami peningkatan aktivitas yang cukup untuk membuatnya tetap
terjaga. Selama proses pembutan kopi, banyak kafein yang hilang karena rusak
ataupun larut dalam air perebusan. Di samping itu, pada beberapa kasus
pengurangan kadar kafein justru dilakukan untuk disesuaikan dengan tingkat kesukaan
konsumen terhadap rasa pahit dari kopi. Metode yang umum dipakai untuk hal ini
adalah Swiss Water Process.
Prinsip kerjanya adalah dengan menggunakan uap air panas dan uap untuk
mengekstraksi kafein
dari dalam biji kopi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada era ini juga
telah memungkinkan implementasi bioteknologi
dalam proses pengurangan kadar kafein.Cara ini dilakukan dengan menggunakan
senyawa theophylline yang
dilekatkan pada bakteri
untuk menghancurkan struktur kafein.
Kandungan kafein dalam
kopi memiliki efek yang beragam pada setiap manusia. Beberapa orang akan
mengalami efeknya secara langsung, sedangkan orang lain tidak merasakannya sama
sekali. Hal ini terkait dengan sifat genetika
yang dimiliki masing-masing individu terkait dengan kemampuan metabolisme
tubuh dalam mencerna kafein. Metabolisme kafein terjadi dengan bantuan enzim sitokrom
P450 1A2 (CYP1A2).] Terdapat 2 tipe enzim, yaitu CYP1A2-1 dan
CYP1A2-2. Orang yang memiliki enzim CYP1A2-1 mampu mematabolisme kafein dengan
cepat dan efisien sehingga efek dari kafein dapat dirasakan secara nyata.Enzim CYP1A2-2 memiliki
laju metabolisme kafein yang lambat sehingga kebanyakan orang dengan tipe ini
tidak merasakan efek kesehatan dari kafein dan bahkan cenderung menimbulkan
efek yang negatif.
Banyak isu yang berkembang mengenai
efek negatif meminum kopi bagi tubuh, seperti meningkatnya risiko terkena kanker, diabetes
melitus tipe 2, insomnia, penyakit jantung,
dan kehilangan konsentrasi. Beberapa penelitian justru menyingkapkan hal
sebaliknya. Kandungan kafein yang terdapat di dalam kopi ternyata mampu menekan
pertumbuhan sel
kanker
secara bertahap. Selain itu, kafein mampu menurunkan risiko terkena diabetes
melitus tipe 2 dengan cara menjaga sensitivitas tubuh terhadap insulin.
Kafein dalam kopi juga telah terbukti mampu mencegah penyakit serangan jantung.
Pada beberapa kasus, konsumsi kopi juga dapat membuat tubuh tetap terjaga dan
meningkatkan konsentrasi walau tidak signifikan. Di bidang olahraga,
kopi banyak dikonsumsi oleh para atlet sebelum bertanding karena senyawa aktif di dalam kopi
mampu meningkatkan metabolisme energi, terutama
untuk memecahkan glikogen (gula cadangan dalam tubuh).
Selain kafein, kopi juga mengandung
senyawa antioksidan
dalam jumlah yang cukup banyak. Adanya antioksidan dapat membantu tubuh dalam
menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas,
seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Beberapa contoh senyawa
antioksidan yang terdapat di dalam kopi adalah polifenol,
flavonoid,
proantosianidin, kumarin,
asam
klorogenat, dan tokoferol. Dengan
perebusan, aktivitas antioksidan ini dapat ditingkatkan.
Permasalahan :
1. Selama
proses pembutan kopi, banyak kafein yang hilang karena rusak ataupun larut
dalam air perebusan. Di samping itu, pada beberapa kasus pengurangan kadar
kafein justru dilakukan untuk disesuaikan dengan tingkat kesukaan konsumen
terhadap rasa pahit dari kopi.] Metode yang umum dipakai untuk hal
ini adalah Swiss Water Process.
Prinsip kerjanya adalah dengan menggunakan uap air panas dan uap untuk
mengekstraksi kafein
dari dalam biji kopi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada era ini juga
telah memungkinkan implementasi bioteknologi
dalam proses pengurangan kadar kafein.Cara ini dilakukan dengan menggunakan
senyawa theophylline yang
dilekatkan pada bakteri
untuk menghancurkan struktur kafein. Nah, bagaimana dengan kopi “LUWAK” yang
pembuatannya itu, biji kopi yang sebelum di olah, di konsumsi dulu oleh hewan
“LUWAK” setelah itu baru di olah menjadi kopi, dan menurut penjelasan yang
pernah saya dengar dari media televisi bahwa kekhasan rasa kopi tersebut
terdapat pada proses itu, dalam arti kopi itu terasa lebih enak karena adanya
proses yang terjadi oleh hewan tersebut, jadi yang ingin saya tanyakan menurut
anda apakah pengaruh dari proses biji kopi yang di konsumsi terlebih dahulu
oleh hewan tersebut terhadap kafein pada biji kopi tersebut sehingga membuat
kopi tersebut memiliki rasa yang lebih khas dan banyak disukao oleh masyarakat
? dan apakah terjadi perubahan struktur kimiawinya ? dan apakah hal tersebut
tidak berpengaruh terhadap kesehatan manusia yang mengkonsumsinya? Jika iya
tolong jelaskan bagaimana cara pencegahan dan penanggulangannya?
2. Alkaloid
pada teh lebih sulit diisolasi dibandingkan dengan kopi. Hal ini disebabkan
oleh adanya tanin yang terkandung dalam teh. Pertanyaannya, apkah pelarut yang
digunakan untuk mempercepat isolasi teh dan
bagaimana mekanisme reaksi sehingga diperoleh kafein murni dari senyawa
tersebut. (bagaimana nasib tanin)?
3. Biosintesis
pada reaksi Mannich komponen integralnya adalah amina, karbonil dan carbonion,
yang memerankan peran nukleofil dalam penambahan nukleofilik pada ion yang
terbentuk oleh reaksi amina dan karbonil. Yang ingin saya tanyakan adalah
mengapa amina dan karbonil serta carbanion merpakan komponen integral dari
reaksi Mannich ini yang memainkan peran nukleofil dalam perubahan
nukleofiliknya ? lalu bagaimana bila amina tersebut digantikan dengan amonia
yang juga memiliki kemiripan sifat dengan amina, apakah dapat berperan sebagai
nukleofil dalam penambahan nukleofilik pada ionnya ?
saya akan mencoba menjawab no 2
ReplyDeleteKafein dapat larut dalam pelarut organik seperti CaCO3 dan dalam air. Kafein juga dapat terikat oleh senyawa non polar seperti kloroform. Kloroform dapat menghasilkan zat lain didalam teh. Pemisahan kafein dari teh dilakukan dengan cara ekstraksi. Ekstraksi adalah proses mengambil suatu zat terlarut dari dalam larutan air oleh suatu pelarut yang tak dapat campur dengan air sehingga dapat dipisahkan.
Percobaan dilakukan dengan menggunakan metode eksraksi bertahap (batch) dan prinsip hukum distribusi dimana zat yang diekstraksi dilarutkan dalam dua pelarut yang tidak saling larut sehingga zat yang terekstraksi akan mendistribusikan dirinya terhadap ke dua pelarut itu dan memiliki kecendrungan tertentu untuk lebih terdistribusi kedalam pelarut yang memiliki kesamaan sifat seperti sama-sama polar dan sejenisnya.
Teh merupakan minuman yang memiliki aroma harum dan rasa yang khas. Teh mengandung banyak zat yang memiliki manfaat yang berguna bagi kesehatan tubuh seperti polifenol, theofilin, flavonoid/ metilxantin, tanin, vitamin C dan E, catechin, serta seejumlah mineral seperti Zn, Se, Mo, Ge, Mg. Selain itu di dalam teh terdapat kandungan kafein yang berakibat kurang baik untuk tubuh. Kafein dapat menyebabkan insomnia, gelisah, merangsang, delirium, takikardia, ekstrasistole, pernafasan meningkat, temor otot, dan dieresis.
Kafein adalah zat yang secara ilmiah di produksi oleh dedaunan dan biji-bijian tumbuhan. Kafein juga di produksi secara artifisial dan di tambahkan ke dalam beberapa produk makanan. Kafein terdapat di dalam daun teh, biji, kopi, coklat, dan obat penghilang rasa sakit. Pada minuman ringan juga sering di tambahkan dengan kafein. Kafein merupakan alkoloid dengan nama 1,3,7-trimetil xanthina. Kafein berfungsi sebagai stimulan. Merupakan hablur yang pahit dengan warna putih mengkilat, kristal menjarum dengan titik mencair atau titik leleh 236°C, dan tidak berbau. Kafein terdapat pada teh, kopi, cola, mente, dan cokelat, selain itu kafein juga diperoleh dari sintesa kimia. Kadar kafein dalam teh lebih besar dari pada dalam kopi. Kadar kafein dalam teh berkisar antara 2-4%, sedangkan dalam kopi hanya 0,5%. Kafein dapat bereaksi dengan iodium secara adisi, sehingga kadar kafein dapat dihitung dengan menggunakan larutan iodium. Untuk reaksi adisi dengan kafein digunakan iodium berlebih. Iodium dianalisa dengan titrasi reduksi.Kafein merupakan zat stimulan ringan yang dapat menyebabkan jantung jadi berdebar dan menghilangkan rasa kantuk, banyak orang yang telah mengkonsumsi kafein menjadi lebih enerjik dan bersemangat. Terlalu banyak mengkonsumsi kafein menyebabkan gelisah, sensitif, insomnia, dan tremor. Kafein dapat bersifat racun. Kafein didapatkan dari isolasi daun teh. Dalam daun teh tidak hanya mengandung kafein tapi juga substansi lain seperticelulose.
Saya akan menjawab permasalahan 3. Reaksi Mannich adalah sebuah reaksi organik yang mengandung alkilasi amino proton asam terletak di sebelah gugus fungsi karbonil dengan formaldehida dan amonia atau amina primer atau sekunder apapun. Produk akhirnya adalah senyawa β-amino-karbonil [1]. Reaksi antara aldimina dan karbonil α-metilena juga dianggap sebagai reaksi Mannich karena imina ini merupakan bentuk antara amina dan aldehida.
ReplyDeleteReaksi Mannich merupakan salah satu contoh adisi nukleofilik amina ke sebuah gugus karbonil yang diikuti oleh eliminasi anion hidroksil menjadi basa Schiff. Basa Schiff merupakan elektrofil yang bereaksi dalam dua langkah pada adisi nukleofilik kedua dengan karbanion yang dihasilkan dari senyawa yang mengandung proton asam. Oleh karena itu, reaksi Mannich mengandung sifat elektrofilik dan nukleofilik. Reaksi Mannich juga dianggap sebagai reaksi kondensasi.
Pada reaksi Mannich, amonia atau amina primer atau sekunder digunakan untuk aktivasi formaldehida. Amina tersier dan amina aril akan berhenti pada tahap basa Schiff karena ia kekurangan proton untuk membentuk zat antara imina. Senyawa α-CH-asam (Nukleofil) dapat berupa senyawa karbonil, senyawa nitril, senyawa asetilena, senyawa nitro alifatik, senyawa α- alkil-piridina, atau senyawa imina. Penggunaan heterolingkar seperti furan, pirola, dan tiofena juga dimungkinkan, karena struktur mereka menyerupai bentuk enol dari senyawa karbonil.
Reaksi ini menghasilkan senyawa β-amino karbonil dan basa Mannich. Sebagai contoh lihat tropinon.
Reaksi Mannich memerlukan temperatur reaksi yang tinggi, waktu reaksi yang lama, dan pelarut protik. Pembentukkan produk sampingan yang tidak diinginkan merupakan fenomena yang umumnya terpantau.
Malam novi, saya akan menjawab permasalahan anda yg kedua. Isolasi kaffein dari daun teh dengan pelarut air yang dipanaskan secara langsung tidak memperlihatkan kerusakan struktur kaffein, tatpi membutuhkan waktu yang lama, temperature tinggi dan kaffein yang terambil hanya sedikit, hal ini disebabkan karena air tidak mampu menarik kaffein dari ikatan garamnya. Penambahan basa dapat membantu melepaskan kaffein dari garamnya, dan larut dalam air, sebagai basa digunakan air kapur. Air kapur ini juga berfungsi merusak lapisan lilin dari dinding sel daun sehingga kaffein mudah keluar. Kaffein yang berada dalam fasa cair, diekstraksikan oleh CHCl3, hal ini terjadi karena kelarutan kofeina dalam CHCl3 lebih besar dari kelarutana air.
ReplyDeleteSaya akan menjawab permasalahan yg ke 3 Produk akhirnya adalah senyawa β-amino-karbonil [1]. Reaksi antara aldimina dan karbonil α-metilena juga dianggap sebagai reaksi Mannich karena imina ini merupakan bentuk antara amina dan aldehida.
ReplyDeleteReaksi Mannich merupakan salah satu contoh adisi nukleofilik amina ke sebuah gugus karbonil yang diikuti oleh eliminasi anion hidroksil menjadi basa Schiff. Basa Schiff merupakan elektrofil yang bereaksi dalam dua langkah pada adisi nukleofilik kedua dengan karbanion yang dihasilkan dari senyawa yang mengandung proton asam. Oleh karena itu, reaksi Mannich mengandung sifat elektrofilik dan nukleofilik. Reaksi Mannich juga dianggap sebagai reaksi kondensasi.
Saya akan menjawab soal no 2
ReplyDeleteTanin harus dapat dipisahkan untuk mendapatkan kafein murni. Cara untuk memisahkan kafein dengan tanin adalah dengan menambahkan natrium karbonat dan diklorometana. Natrium karbonat adalah senyawa yang bersifat basa sehingga akan bereaksi dengan tanin yang bersifat asam membentuk garam, garam ini larut dalam air tapi tidak larut dalam diklorometana. Diklorometana merupakan senyawa non-polar yang dapat melarutkan kafein yang juga merupakan senyawa non-polar. Saat penambahan diklorometana ke dalam ekstrak teh, corong pisah dikocok perlahan, Setelah proses ini selesai akan didapat larutan air-garam dan kafein-diklorometana yang berwarna bening. Untuk memisahkan keduanya ditambahkan kalsium klorida anhidrat kemudian didekantasi atau disaring menggunakan kertas saring biasa. Kalsium klorida anhidrat ini berfungsi untuk absorpsi eksoterm air sehingga setelah dilakukan penyaringan, filtrat yang diperoleh adalah murni larutan kafein-diklorometana.Larutan senyawa kafein-diklorometana kemudian didistilasi dengan metode distilasi sederhana karena perbedaan titik didihnya yang jauh. Distilasi ini berfungsi untuk memisahkan kafein dari diklorometana. Produk dari distilasi adalah kristal kafein.
Dari nomor 2.
ReplyDeleteCara untuk memisahkan kafein dengan tanin adalah dengan menambahkan natrium karbonat dan diklorometana. Natrium karbonat adalah senyawa yang bersifat basa sehingga akan bereaksi dengan tanin yang bersifat asam membentuk garam, garam ini larut dalam air tapi tidak larut dalam diklorometana