Skip to main content

Terpenoid


TERPENOID
A.    Asal Usul Terpenoid
Sejak dahulu kala orang mengetahui bahwa bunga, daun buah, dan akar dari berbagai tumbuhan mengandung bahan yang mudah menguap dan berbau wangi yang disebut minyak atsiri. Indonesia termasuk salah satu Negara penghasil minyak atsiri yang utama didunia. Beberapa diantara, seperti minyak nilam, minyak sereh, minyak cengkeh, minyak cendana dan minyak kayu putih.
Pada umumnya tumbuhan yang kaya akan minyak atsiri termasuk suku Labiatae : nilam, ruku-ruku, selasih, dan marga Metha; suku Myrtaceae : cengkeh, kayu putih, marga Eucalyptus; suku Pinaceae : Marga Pinus; suku Rutacea : marga Citrus; dan suku Umbelliferae : ketumbar, seledri dan adas.
Minyak atsiri bukanlah senyawa murni akan tetapi merupakan campuran senyawa organik yang kadang kala terdiri dari lebih besar dari 25 senyawa atau komponen yang berlainan. Sebagian besar komponen minyak atsiri adalah senyawa yang hanya mengandung karbon, dan hidrogen atau karbon, hidrogen dan oksigen yang tidak bersifat aromatik yang secara umum disebut terpenoid.
Fraksi yang paling mudah menguap biasanya terdiri dari golongan terpenoid yang mengandung 10 atom karbon. Fraksi yang mempunyai titik didih lebih tinggi terdiri dari terpenoid yang mengandung 15 atom karbon.
Pada mulanya, para ahli kimia mengajukan hipotesa bahwa sintesa terpenoid in vivo dalam jaringan organism melibatkan secara langsung senyawa isoprene. Hipotesa ini didukung oleh penemuan bahwa (+) atau (-) limonene dan (+) – limonene (disebut juga dipenten) pada pirolisa dapat menghasilkan isoprene. Begitu pula dua unit isoprene pada pemanasan dapat menghasilkan dipenten melalui reakasi Diels-Alder.

B.     Struktur Molekul
Terpen-terpen adalah suatu golongan senyawa yang sebagian besar terjadi dalam dunia tumbuh-tumbuhan. Hanya sedikit sekali terpen-terpen yang diperoleh dari sumber-sumber lain. Monoterpen-monoterpen dan seskuiterpen adalah komponen utama dari minyak menguap atau minyak atsiri. Minyak menguap ini diperoleh dari daun atau jaringan-jaringan tertentu dari tumbuh-tumbuhan atau pohon-pohonan. Minyak atsiri adalah bahan yang mudah menguap, sehingga ia mudah dipisahkan dari bahan-bahan lain yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan. Salah satu cara yang paling popular untuk memisahkan minyak atsiri dari jaringan tumbuh-tumbuhan ialah penyulingan. Senyawa-senyawa di dan triterpen tidak dapat diperoleh dengan jalan destilasi uap, tapi diperoleh dari tumbuh-tumbuhan dan tanaman karet atau resin dengan jalan isolasi serta metoda pemisahan tertentu.
Perbandingan banyaknya atom karbon dan atom hydrogen dalam terpen adalah 5 : 8. Terpen tersusun dari senyawa – senyawa yang mengandung gabungan kepala ke ekor dari satuan kerangka isoprene (kepala adalah ujung yang terdekat ke cabang metil). Untuk menekankan hubungan dengan isoprene ini maka terpen juga disebut isoprenoid.terpan mengandung 2,3 atau lebih satuan isoprene.
Secara umum terpenoid terdiri dari unsur-unsur C dan H dengan rumus molekul umum (C5H8)n. Klasifikasi biasanya tergantung pada nilai n.
Nama
Rumus
Sumber
Monoterpen
C10H16
Minyak Atsiri
Seskuiterpen
C15H24
Minyak Atsiri
Diterpen
C20H32
Resin Pinus
Triterpen
C30H48
Saponin, Damar
Tetraterpen
C40H64
Pigmen, Karoten
Politerpen
(C5H8)n  n  8
Karet Alam

·         Monoterpen :
 
·         Seskuiterpen :
         
·         Diterpen :
·         Politerpen :
·         Terpenoid tidak teratur
Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa, mulai dari komponen minyak atsiri, yaitu monoterpena dan sesquiterepena yg mudah menguap (C10 dan C15), diterpena menguap, yaitu triterpenoid dan sterol (C30), serta pigmen karotenoid (C40). Masing-masing golongan terpenoid itu penting, baik dalam pertumbuhan dan metabolisme maupun pada ekologi tumbuhan. Terpenoid merupakan unit isoprena (C5H8). Terpenoid merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 siklik yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan berupa alcohol, aldehid atau atom karboksilat. Mereka berupa senyawa berwarna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan aktif optic yang umumnya sukar dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya.

C.     Skrining Fitokimia Terpenoid
Mekanisme dari tahap-tahap reaksi biosintesis terpenoid adalah asam asetat setelah diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi jenis Claisen menghasilkan asam asetoasetat. Senyawa yang dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi jenis aldol menghasilkan rantai karbon bercabang sebagaimana ditemukan pada asam mevalinat, reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforilasi,eliminasi asam fosfat dan dekarboksilasi menghasilkan isopentenil (IPP) yang selanjutnya berisomerisasi menjadi dimetil alil piropospat (DMAPP) oleh enzimisomeriasi. IPP sebagai unit isoprene aktif bergabung secara kepala ke ekor dengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan langkah pertama dari polimerisasi isoprene untuk menghasilkan terpenoid.Penggabungan ini terjadi karena serangan electron dari ikatan rangkap IPP terhadap atom karbon dari DMAPP yang kekurangan electron diikuti olehpenyingkiran ion pirofosfat yang menghasilkan geranil.pirofosfat (GPP) yaitu senyawa antara bagi semua senyawa monoterpenoid.Penggabungan selanjutnya antara satu unti IPP dan GPP dengan mekanisme yang sama menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawaantara bagi semua senyawa seskuiterpenoid. Senyawa diterpenoid diturunkan dariGeranil-Geranil Pirofosfat (GGPP) yang berasal dari kondensasi antara satu unit IPP dan GPP dengan mekanisme yang sama. Secara umum biosintesa dari terpenoid terjadi 3 reaksi dasar yaitu:
1.      Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat melalui asam mevalonat.
2.      Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprene akan membentuk mono-,seskui-, di-. sester-, dan poli-terpenoid.
3.      Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15 atau C-20 menghasilkan triterpenoid dan steroid.

D.    Isolasi Dan Pemurnian Serta Penentuan Struktur
Secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder dari seluruh bagian tunbuhan seperti bunga, buah, daun, kulit batang dan akar menggunakan sistem maserasi menggunakan pelarut organik polar seperti metanol. Beberapa metode ekstraksi senyawa organik bahan alam yang umum digunakan antara lain: Maserasi, Perkolasi, Sokletasi, Destilasi Uap, Pengempaan.
Fraksinasi pada prinsipnya adalah proses penarikan senyawa pada ekstrak dengan menggunakan 2 macam pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang umumnya digunakan adalah n-heksan, etil asetat dan methanol.
Proses pemisahan dan pemurnian bertujuan untuk mendapatkan senyawa murni dari fraksi yang ada. Dimana dalam hal ini difokuskan pada pemisahan dan pemurnian fraksi senyawa n-heksana saja.  Dalam proses pemisahan dan pemurnian ini di lakukan dengan metode kromatografi kolom tetapi sebelum analisis dilakukan, terlebih dahulu analisis dilakukan dengan kromatografi lapis tipis.
Pemisahan pertama dilakukan dengan menggunakan KVC, pelarut yang digunakan merupakan pelarut organik yang ditingkatkan kepolarannya secara gradien. Pada pemisahan ini digunakan pelarut n-heksan dan etil asetat. Berdasarkan analisa kromatogram KLT fraksi heksana pada eluen heksana dan etil asetat dengan beberapa komposisi perbandingan maka KVC dilakukan dengan beberapa perbandingan yaitu 100% n-heksan sebanyak 2 kali :24:1 sebanyak 3 kali : 21 : 4 sebanyak 4 kali ; 18:7 sebanyak 2 kali; 15 :10 sebanyak 2 kali ; 9:16 sebanyak 2 kali; 6:19 sebanyak 2 kali; 3:22 sebanyak 2 kali dan 100% asetat sebanyak 2 kali dengan volume 50 mL setiap kali elusi. KVC fraksi heksan dengan massa 4,1 gram menghasilkan 22 fraksi.
Fraksi yang memiliki pola kromatogram yang sama digabungkan hingga mendapatkan 5 fraksi gabungan. Massa dari masing-masing fraksi tersebut adalah fraksi A (1-4) sebanyak 838 mg, fraksi B (5) sebanyak 1.082 mg, fraksi C (6-7) sebanyak 1.017 mg, fraksi D dan E (8-17) sebanyak 82 mg dan fraksi F (128-22) sebanyak 91 mg. Fraksi-fraksi gabungan dianalisis dengan KLT menggunakan eluen heksana : etil asetat dengan perbandingan 6 : 4.
Analisa kromatogram 24 fraksi yang diperoleh dari hasil KVC dapat digabungkan berdasarkan kesamaan Rf menjadi 8 fraksi. Massa masing-masing fraksi tersebut adalah fraksi C1 (1-6) sebanyak 15 mg, C7 (7) sebanyak 15 mg, C2 (8-10) sebanyak 126 mg, C11 ( 11)sebanyak 117 mg, C3 (12-14) sebanyak 149 mg, C4 (15-19) sebanyak 188 mg, C20 (20) sebanyak 59 mg dan C5 (21-24) sebanyak 207 mg.
Hasil penggabungan fraksi dalam C2 dan C11 berbentuk kristal. Rekristalisasi dilakukan dengan melarutkan fraksi kristal dengan metanol panas yang kemudian didinginkan. Setelah didinginkan terbentuk kristal yang tidak larut di dialam metanol. Kristal tersebut dipisahkan dengan menggunkan kertas saring. Dengan menggunakan teknik pemurnian rekristalisasi pada kedua difraksi tersebut didapat beberapa fraksi kristal. Fraksi- fraksi  tersebut diuji kemurniannya dengan KLT dan dilihat pula kromtogramnya untuk mengetahui senyawa yang sama atau tidak pada hasil kemurnian dengan rekristalisasi tersebut. Dari fraksi-fraksi hasil diperoleh fraksi murni yakni C2 – 1 dan C11-2. Hasil rekritalisasi kedua fraksi tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan FT-IR dan NMR.

E.     Bioaktivitas

1.      Bioaktivitas Terpenoid Dari Akar Dan Daun Jatropha Gaumeri
Bioaktivitas terpenoid pada akar dan daun Jatropha gaumeri (jarak). Karena pada tanaman ini terkandung golongan senyawa terpenoid dan juga pada ekstrak daun ini memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Aktivitas tersebut dihasilkan dengan isolasi dan identifikasi pada akar yang menghasilkan 2-epi-jatrogossidin. Salah satunya suatu rhamnofolane diterpene dengan aktifitas antimicrobial, dan kedua 15-epi-4E jatrogrossidentadione, suatu lathyrane diterpene tanpa aktivitas biologi. Dengan cara yang sama, pemurnian dengan penelitian yang telah diuji dari ekstrak daun dapat mengdentifikasi sitosterol dan triterpen amaryn, traraxasterol. Metabolit ini ternyata bisa digunakan sebagai aktifitas antioxidant.
2.      Bioaktivitas Terpenoid Pada Tanaman Jarak
Bioaktivitas terpenoid pada akar dan daun Jatropha gaumeri (jarak). Karena pada tanaman ini terkandung golongan senyawa terpenoid dan juga pada ekstrak daun ini memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Aktivitas tersebut dihasilkan dengan isolasi dan identifikasi pada akar yang menghasilkan 2-epi-jatrogossidin (1). Salah satunya suatu rhamnofolane diterpene dengan aktifitas antimicrobial, dan kedua 15-epi-4E jatrogrossidentadione (2), suatu lathyrane diterpene tanpa aktivitas biologi. Dengan cara yang sama, pemurnian dengan penelitian yang telah diuji dari ekstrak daun dapat mengdentifikasi sitosterol dan triterpen amaryn, traraxasterol. Metabolit ini ternyata bisa digunakan sebagai aktifitas antioxidant.
Khasiat dari sebagaian besar pengobatan dapat ditunjukkan oleh jenis tumbuhan dari Genus Jatropa (Euphorbiaceae). Misalnya latex/getah yang masih baru dari beberapa tumbuhan genus ini digunakan dalam pengobatan masyarakat untuk perawatan bibir melepuh, jerawat, dan scabies. Sedangkan infus dari daunnya digunakan untuk perawatan bisul, infeksi luka dan diare. Untuk daun dan bijinya dipakai sebagai laksatif. Dari sifat fisika kimia dari genus Jatropa, dikenali sebagai sumber daya yang paling penting dengan jumlah struktur metabolit sekunder, contoh alkaloid, diterpene, lignin, triterpen, dan peptide siklik. Jumlah aktivitas biologis dari Jatropa spp dapat dideteksi dalam bahan alaminya, contoh antimikroba, antitumor dan sitoksik, dan aktivitas penghasil tumor.

PERMASALAHAN :
1.      Mengapa sebagian besar senyawa terpenoid hanya terdapat pada tumbuhan ? Bagaimana pengaruh kereaktifan terpenoid tersebut terhadap pertumbuhan tumbuhan ?
2.      Dalam proses isolasi tidak hanya menggunakan satu metode saja. Dari tiap metode yang digunakan dapat menghasilkan jumlah fraksi yang berbeda-beda pula. Mengapa penggunaan metode yang berbeda tersebut dapat mempengaruhi jumlah fraksi – fraksi yang diperoleh?
3.      Bagaimana mekanisme kereaktifan terpenoid dalam tumbuhan “jarak” sebagai penyembuh jerawat ? Bukankah di dalamnya sendiri juga terdapat racun seperti pada bijinya mengandung  kursin dan toksalbumin dan daunnya yang mengandung  tarakserol. Apakah tidak membahayakan dalam mengonsumsi/menggunakan tanaman ini bagi kesehatan tubuh ? 

Comments

  1. saya akan menjawab soal nomor 1
    saya akan mencoba menjawab, alasannya kenapa sebagian terpenoid hanya terdapat pada tumbuhan karena terpenid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya mencegah pertumbuhan hama dan penyakit, menarik polinator dan sebagai molekul signal, artinya senyawa metabolit yang ada dalam organisme digunakan untuk berinteraksi terhadap lingkungan.

    dan bagaimana pengaruh kereaktifannya terhadap pertumbuhan tumbuhan menurut saya adalah semakin keraktifan itu berpengaruh maka semakin kuat pula interaksiny terhadap lingkungan dan semakin banyak pula intensitasny dalam menghasilnya senyawa obat baru dan model untuk menemukan senyawa obat baru.

    ReplyDelete
  2. saya akan memberi tanggapan pada pertanyaan no 1.
    menurut saya, karena terpenoid itu kebanyakan yang di temukan pada tumbuhan itu di sebebkan karena unsur-unsur yang terkandung dalam tumbuhan itu sendirilah yang memiliki kandungan yang berfungsi sebagai sel anti kanker dan lain sebagainya di dalam dunia farmasi. hal itu di karenakan kebanyakan obat-obatan juga di temukan dari tumbuh-tumbuhan.

    ReplyDelete
  3. Baiklah, saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2, menurut literature yang saya baca, metode isolasi dapat dilakukan dengan beberapa cara, ada yang dapat dilakukan dengan cara ektraksi (sekletasi dan meserasi), destilasi (destilasi uap-air dan destilasi uap), dalam beberapa metode tersebut tentulah memiliki cara/mekanisme kerja yang berbeda pula, tidak hanya itu, dalam setiap metode pun alat ataupun bahan yang digunakan dalam melakukan metode-metode tersebut juga berbeda, sehingga dapat menyebabkan hasil atau jumlah fraksi yang didapatkan berbeda pula. Akan tetapi, pada dasarnya setiap metode itu memiliki kelebihan tersendiri dalam proses mekanisme kerjanya dan hasil yang didapatkannya, contohnya: dalam mengisolasi suatu sample yang berbahan kering dapat dilakukan dengan menggunakan metode ekstraksi dengan cara sokletasi, akan tetapi untuk melakukan isolasi pada sample yang tidak kering seperti kulit jeruk dapat dilakukan dengan menggunakan metode destilasi uap-air, dengan melakukan perlakuan yang demikian sesuai sample yang akan di uji isolasinya, dapat menghasilkan hasil yang maksimal.

    ReplyDelete
  4. Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1 dimana Dari permasalahan diatas dikatakan senyawa terpenoid lebih banyak terdapat ditumbuhan daripada dihewan, menurut saya hal ini dikarenakan salah satu sifat dari senyawa metabolit sekunder atau bahan alam yaitu mampu menjadi senyawa perlindungan terhadap hama. Selain itu, juga dikarenakan pada tumbuhan banyak terkandung minyal atsiri dan terpenoid itu sendiri ada didalam minyak atsiri tersebut.

    Untuk pengaruh dari kereaktifannya, menurut saya dengan kereaktifan struktur terpenoid pada suatu tumbuhan akan berpengaruh pada daya hambat metabolit sekunder didalam tumbuhan itu sebagai suatu senyawa antibakteri.

    ReplyDelete
  5. saya akan menjawab no 1
    sebagian terpenoid hanya terdapat pada tumbuhan karena terpenid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya mencegah pertumbuhan hama dan penyakit, menarik polinator dan sebagai molekul signal, artinya senyawa metabolit yang ada dalam organisme digunakan untuk berinteraksi terhadap lingkungan.
    pengaruh kereaktifannya terhadap pertumbuhan tumbuhan menurut saya adalah semakin keraktifan itu berpengaruh maka semakin kuat pula interaksiny terhadap lingkungan dan semakin banyak pula intensitasny dalam menghasilnya senyawa obat baru dan model untuk menemukan senyawa obat baru.
    semoga jawaban saya dapat membantu

    ReplyDelete
  6. Dari nomor 1.
    karena terpenid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya mencegah pertumbuhan hama dan penyakit, menarik polinator dan sebagai molekul signal, artinya senyawa metabolit yang ada dalam organisme digunakan untuk berinteraksi terhadap lingkungan.

    ReplyDelete
  7. Dari nomor 1.
    karena terpenid merupakan senyawa metabolit sekunder yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya mencegah pertumbuhan hama dan penyakit, menarik polinator dan sebagai molekul signal, artinya senyawa metabolit yang ada dalam organisme digunakan untuk berinteraksi terhadap lingkungan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Flavonoid

FLAVONOID A.      Pengertian Senyawa flavanoid adalah senyawa-senyawa fenol yang berasal dari senyawa aromatik yang terdapat dialam. Meski sering disebut senyawa fenol namun sebagian besar senyawa flavanoid bersifat netral karena tidak mengandung gugus fenol dalam keadaan bebas. B.       Macam-Macam Senyawa Flavanoid 1.        Senyawa Flavonoid: Katekin dan proantosianidin Katekin dan proantosianidin adalah dua golongan senyawa yang mempunyai banyak kesamaan. Semuanya senyawa berwarna dan terdapat pada seluruh dunia tumbuhan berkayu. Saat ini telah dikenal tiga jenis katekin, yang berbeda pada jumlah gugus hidroksil pada cincin B. Senyawa ini mempunyai dua atom karbon kiral dan karena itu mungkin terdapat 4 isomer. 2.        Senyawa Flavanoid: Flavanon dan Flavanonol Senyawa Flavanon dan Flavanonol  terdapat hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan flavo...

Alkaloid

ALKOLOID A.     Asal-Usul Alkaloid Alkaloid dihasilkan oleh banyak organisme, mulai dari bakteria , fungi (jamur), tumbuhan , dan hewan . Ekstraksi secara kasar biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa. Rasa pahit atau getir yang dirasakan lidah dapat disebabkan oleh alkaloid. Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap bersifat basa ) pertama kali dipakai oleh Carl Friedrich Wilhelm Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle ( Jerman ) untuk menyebut berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa (pada waktu itu sudah dikenal, misalnya, morfina , striknina , serta solanina ). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga sekarang tidak ada batasan yang jelas untuknya. B.      Struktur Molekul Alkaloida tidak mempunyai tatanan sistematik, oleh karena itu, suatu alkaloida dinyat...

Fenil Propanoid

FENIL PROPANOID Fenilpropanoid merupakan suatu kelompok senyawa fenolik alam yg berasal dari asam amino aromatik fenilalanin dan tirosin. Golongan senyawa ini adalah zat antara dari jalur biosintesis asam sikimat. Berdasarkan strukturnya, fenilpropanoid memiliki cincin fenil yang menjadi tempat melekatnya rantai samping 3C. Senyawa fenilpropanoid adalah senyawa memiliki kerangka aromatik fenil (C6) dengan rantai samping propanoid (C3), sehingga jumlah total karbonnya adalah 9 dan disebut C9 atau fenil propanoid dan kelipatannya. Fenilpropanoid juga dapat mengandung satu atau lebih residu C6-C3. Karakteristik lainnya adalah tidak mengandung atom nitrogen dan terdapat satu atau beberapa gugus hidroksil yang melekat pada rantai aromatik, sehingga memiliki sifat fenolik. Karenanya, golongan fenilpropanoid disebut pula sebagai fenolik tumbuhan. Keberadaannya berlimpah pada tumbuhan namun terbatas pada jamur dan belum ditemukan pada manusia atau vertebrata. Senyawa fenilpropanoid ter...